
Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan Pante Kulu Banda Aceh pada Sabtu, 14 Februari 2026 menyelenggarakan Wisuda Sarjana Kehutanan yang diikuti 40 lulusan. Sejak berdiri tahun 1986, STIK telah menghasilkan 1.157 sarjana kehutanan dengan tingkat serapan kerja sekitar 90%, sebagai bukti komitmen institusi dalam menyiapkan SDM kehutanan yang profesional, berintegritas, dan berdaya saing. Dalam sambutannya, pimpinan Perguruan Tinggi menegaskan bahwa wisuda bukan sekadar penutup masa studi, melainkan awal pengabdian kepada masyarakat, terutama di tengah tantangan global seperti krisis iklim, degradasi sumber daya alam, serta meningkatnya bencana hidrometeorologi yang kini menjadi realitas nyata. Para lulusan diharapkan menjadi generasi profesional yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki integritas moral, kepekaan sosial, dan kemampuan lintas disiplin untuk menjawab tantangan kehutanan modern.
Pada kesempatan yang sama, orasi ilmiah bertema “Identitas Ekoregional dan Masa Depan Hutan Aceh: Dari Krisis Hidrologi Menuju Pembangunan Berkelanjutan” menegaskan bahwa banjir, longsor, dan degradasi lanskap merupakan sinyal ilmiah terganggunya sistem ekologis, yang salah satu penyebab utamanya adalah pembangunan yang tidak berpijak pada identitas ekologis wilayah . Hasil rangkaian penelitian menunjukkan bahwa pemahaman pemangku kepentingan terhadap identitas ekoregional masih sekitar 40–43%, sehingga banyak potensi lanskap belum dikenali dan belum dikelola secara berkelanjutan. Orasi tersebut menekankan bahwa masa depan hutan Aceh tidak cukup dijaga melalui penanaman pohon saja, melainkan melalui pendekatan terpadu yang menggabungkan aspek ekologi, sosial budaya, ekonomi, dan kebijakan. Para sarjana kehutanan diharapkan menjadi generasi yang mampu membaca lanskap secara ilmiah, menjaga keseimbangan alam, serta menghadirkan solusi pembangunan berkelanjutan bagi Aceh dan Indonesia.