SEKOLAH TINGGI ILMU KEHUTANAN

Tgk. Chik Pante Kulu

Menyambut Mahasiswa Baru; STIK Pante Kulu Melaksanakan Kuliah Umum Dengan Tema “Menjaga Hutan Hari Peta hingga Tapak”

Banda Aceh,  [4 September 2026]. Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan (STIK) Pante Kulu menyelenggarakan kuliah umum bertema “Menjaga Hutan dari Peta hingga Tapak: Penguatan Tata Kelola Kawasan, Konservasi Keanekaragaman Hayati, dan Mitigasi Bencana Ekologis” di Aula Kampus STIK Pante Kulu, Banda Aceh.

 Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Kepala Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Wilayah XVIII Aceh (Budi Santoso, S.P., M.Si) dan Kepala Balai Besar TNGL (Subhan, S.Hut., M.Si).  Kuliah umum diikuti oleh unsur pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta para undangan.

Ketua STIK Pante Kulu dalam sambutannya menyampaikan bahwa perlindungan hutan tidak cukup dilakukan melalui peta dan dokumen perencanaan, tetapi harus diwujudkan dalam tata kelola yang baik dan tindakan nyata di tingkat tapak. Kepastian kawasan, akurasi data geospasial, konservasi keanekaragaman hayati, dan pelibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga fungsi ekologis hutan Aceh. Peta memberikan informasi mengenai letak, luas, batas, fungsi, potensi, dan tekanan terhadap kawasan hutan. Namun, peta  akan bermakna apabila didukung oleh data yang akurat, kepastian hukum, pengawasan yang konsisten, partisipasi masyarakat, dan kegiatan konservasi yang nyata di lapangan,” ujar Ketua STIK Pante Kulu.

Kepala BPKH Wilayah XVIII sebagai pemateri kuliah umum membahas penguatan tata kelola kawasan hutan dan mitigasi bencana ekologis di Provinsi Aceh. Kepastian hukum kawasan, penataan batas fisik, serta pemanfaatan data geospasial dijelaskan sebagai landasan pengambilan keputusan dan pencegahan tumpang tindih pemanfaatan lahan. Data geospasial juga berperan dalam pemantauan perubahan tutupan lahan, deteksi titik api, sistem peringatan dini, penelusuran penyebab bencana ekologis, dan penentuan lokasi rehabilitasi.

Sementara itu, Kepala Balai Besar TNGL memaparkan pentingnya pengelolaan hutan berbasis lanskap, penguatan areal preservasi, patroli dan pemantauan kawasan, perlindungan spesies kunci, pemberdayaan masyarakat, pengembangan wisata alam, serta pemulihan ekosistem. Areal preservasi dipandang sebagai instrumen penting untuk mendukung fungsi penyangga kehidupan dan keberlanjutan keanekaragaman hayati.

Melalui kuliah umum ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami hubungan antara peta, kepastian kawasan, kondisi lapangan, konservasi biodiversitas, dan mitigasi bencana ekologis. Kegiatan ini sekaligus memperkuat kolaborasi STIK Pante Kulu dengan para pemangku kepentingan kehutanan dalam bidang pendidikan, penelitian, magang mahasiswa, pengabdian kepada masyarakat, dan konservasi sumber daya alam.

STIK Pante Kulu berkomitmen untuk terus menghasilkan calon rimbawan yang berintegritas, menguasai ilmu dan teknologi, memiliki kepedulian ekologis, serta mampu berkontribusi nyata dalam menjaga kelestarian hutan Aceh.

Humas STIK Pante Kulu
Banda Aceh