Kolaborasi perguruan tinggi STIKehutanan Pante Kulu, FAMS, pemerintah, dan masyarakat menanam 350 bibit tanaman serba guna, membersihkan sarana penampungan, serta memeriksa jaringan air di Kawasan Ekosistem Seulawah.
Oleh Yasser Premana, S.Hut., M.P. | Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan Pante Kulu
“Jangan tinggalkan air mata, tetapi tinggalkanlah mata air untuk anak cucu kita.”
Pesan konservasi Forum Alur Mancang Saree
Bagi masyarakat Kemukiman Saree, air bukan sekadar urusan membuka keran. Air adalah hasil dari hubungan panjang antara hutan, tanah, aliran sungai, infrastruktur, dan kesediaan warga menjaga kawasan hulunya.
Air bermula dari hutan
Kawasan Ekosistem Seulawah (KES) merupakan bentang alam penting di Aceh Besar. Di dalam bentang alam ini terdapat Taman Hutan Raya Pocut Meurah Intan dan Kawasan Sumber Air Alur Mancang Saree (KSAM). KSAM seluas sekitar 602 hektare menjadi sumber air utama bagi sekitar 425 kepala keluarga di Desa Sukadamai dan Sukamulia, sekaligus berada pada wilayah hulu DAS Krueng Aceh yang menopang kehidupan masyarakat pada wilayah yang lebih luas.
Masalah muncul ketika tutupan vegetasi berkurang dan daerah tangkapan air kehilangan sebagian kemampuannya menahan, menyerap, dan melepaskan air secara bertahap. Pada musim hujan, limpasan permukaan membawa tanah dan sedimen. Pada musim kemarau, debit air menurun dan warga semakin sulit memperoleh air bersih. Dalam laporan masyarakat, kebutuhan air bahkan pernah menambah pengeluaran rumah tangga sekitar Rp300.000 per bulan, sedangkan pelaku usaha dapat mengeluarkan biaya hingga Rp1.500.000 per bulan.
Temuan ilmiah di Aceh juga memperlihatkan bahwa kehilangan dan degradasi hutan pada daerah aliran sungai berkaitan dengan terganggunya jasa pengaturan air dan meningkatnya risiko banjir. Namun, hubungan itu tidak boleh disederhanakan seolah-olah penanaman beberapa ratus pohon akan langsung menghilangkan banjir atau kekeringan. Pemulihan hidrologis membutuhkan waktu, pemeliharaan vegetasi, perlindungan kawasan, perbaikan infrastruktur air, dan pemantauan lintas musim.
Dari inisiatif warga menuju kolaborasi ilmiah
Kesadaran menjaga sumber air sebenarnya telah tumbuh jauh sebelum program pengabdian ini dilaksanakan. Pada 2007, masyarakat membentuk Forum Alur Mancang Saree (FAMS) dengan moto “Berjuang demi setetes air”. Forum yang dipimpin Anzurdin tersebut menjadi ruang gotong royong untuk menjaga sumber air, melakukan patroli, merawat jalur, dan menggerakkan dukungan dari berbagai pihak.
Pada Juni 2026, tim pengabdian Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan Pante Kulu bersama FAMS, masyarakat, pemerintah desa, pemerintah kemukiman, dan pengelola kawasan melakukan sosialisasi, pemetaan kebutuhan, serta penentuan lokasi kegiatan. Sebanyak 20 anggota FAMS dan perwakilan masyarakat mengikuti pelatihan yang memadukan penyuluhan, diskusi, demonstrasi, dan praktik lapangan. Materinya meliputi konservasi tanah dan air, teknik penanaman, pengelolaan sarana air, mitigasi bencana berbasis ekosistem, patroli, serta penguatan kelembagaan.
Bibit tanaman serba guna disiapkan untuk pengayaan vegetasi pada lokasi prioritas KSAM. Foto: Dokumentasi Tim Pengabdian STIK Pante Kulu.
Mengapa tanaman serba guna?
Salah satu capaian utama kegiatan adalah penanaman 350 bibit tanaman serba guna atau multi-purpose tree species (MPTS). Jenis yang ditanam antara lain durian, jengkol, petai, bambu, dan ficus. Penanaman dilakukan pada lokasi prioritas dengan memperhatikan kontur dan fungsi daerah tangkapan air.
Pilihan MPTS didasarkan pada dua pertimbangan. Pertama, fungsi ekologis. Akar membantu mengikat tanah, tajuk mengurangi energi jatuhnya hujan, dan serasah memperbaiki kondisi permukaan tanah. Bila dirawat hingga membentuk tegakan, vegetasi dapat berkontribusi pada peningkatan infiltrasi dan pengurangan erosi. Kedua, fungsi sosial-ekonomi. Tanaman penghasil buah atau produk nonkayu berpotensi memberikan manfaat jangka panjang tanpa harus menebang tegakan.
Pendekatan tersebut penting karena konservasi akan lebih kuat ketika masyarakat tidak hanya menerima larangan, tetapi juga memperoleh manfaat yang sah dan selaras dengan perlindungan kawasan. Meski demikian, manfaat ekonomi belum dapat dihitung pada tahap awal. Tanaman masih harus dipelihara, disulam bila mati, dan dipantau tingkat kelangsungan hidupnya.
Tidak cukup hanya menanam
Program ini tidak berhenti pada penanaman. Tim dan masyarakat memeriksa jaringan distribusi air sepanjang sekitar tiga kilometer dari sumber menuju permukiman. Bak penampung dan penyaring sedimen dibersihkan, sedangkan kondisi jalur air dan pipa diamati untuk menemukan gangguan yang dapat menghambat aliran.
Pemeriksaan lapangan menemukan bagian kawasan yang vegetasinya telah ditebang. Temuan ini memperkuat alasan pengayaan vegetasi pada lokasi-lokasi yang dinilai penting. Sistem air berbasis gravitasi relatif sesuai dengan topografi Saree karena tidak bergantung pada listrik dan biaya operasionalnya lebih rendah. Namun, keandalannya tetap ditentukan oleh kebersihan jalur, kondisi bak, sambungan pipa, serta pembagian tugas pemeliharaan.
Pemeriksaan kondisi bak penampung dan jaringan pipa pada sumber air KSAM. Foto: Dokumentasi Tim Pengabdian STIK Pante Kulu.
Masyarakat sebagai pengelola, bukan sekadar penerima
Teknologi hanya akan bertahan apabila ada kelembagaan yang mengelolanya. Karena itu, penguatan FAMS menjadi bagian utama kegiatan. Anggota forum dan masyarakat dilibatkan dalam pemilihan lokasi, penanaman, pembersihan jalur air, patroli, serta penyusunan jadwal pemeliharaan.
Program juga menghasilkan draf standar operasional prosedur perlindungan KSAM. Dokumen ini masih menunggu pembahasan pengelola, sehingga belum tepat disebut sebagai SOP final. Draf tersebut dirancang untuk memperjelas pembagian tugas, patroli, pemantauan tanaman, pemeriksaan sarana air, dan pelaporan gangguan. Kejujuran mengenai status ini penting: keberhasilan pengabdian tidak cukup diukur dari jumlah dokumen yang dibuat, tetapi dari apakah dokumen itu disepakati dan digunakan.
Gotong royong membersihkan jalur air menjadi bagian dari pemeliharaan sistem air berbasis masyarakat. Foto: Dokumentasi Tim Pengabdian STIK Pante Kulu.
Capaian awal dan pekerjaan yang harus dilanjutkan
Capaian awal program dapat dilihat pada tiga tingkat. Pada tingkat ekologis, 350 bibit MPTS telah ditanam untuk memperkaya vegetasi. Pada tingkat teknis, bak penampung dan penyaring sedimen telah dibersihkan serta jaringan air sekitar tiga kilometer telah diperiksa. Pada tingkat sosial, kegiatan melibatkan 20 anggota FAMS dan perwakilan masyarakat serta mendorong penyusunan jadwal pemeliharaan dan draf SOP.
Meski demikian, dampak hidrologis belum boleh disimpulkan hanya dari selesainya penanaman. Tahap berikutnya perlu mengukur tingkat hidup tanaman, perubahan tutupan vegetasi, kondisi bak dan pipa, kontinuitas aliran, serta kualitas air pada musim hujan dan kemarau. Data itu akan menunjukkan apakah intervensi benar-benar memperbaiki layanan ekosistem dan mengurangi beban masyarakat.
Keberlanjutan juga membutuhkan dukungan pemerintah desa, pengelola Tahura, perguruan tinggi, lembaga konservasi, dunia usaha, dan masyarakat pengguna air. Rencana kerja FAMS perlu dihubungkan dengan perencanaan desa dan sumber pembiayaan yang sah. Sementara itu, pengembangan hasil hutan bukan kayu dan jasa edukasi konservasi harus ditempatkan sebagai insentif untuk menjaga tegakan, bukan alasan baru untuk membuka kawasan.
Mata air untuk anak cucu
Pengalaman Alur Mancang menunjukkan bahwa perlindungan sumber air tidak dapat dipisahkan dari perlindungan hutan dan penguatan masyarakat. Penanaman memberi awal bagi pemulihan vegetasi; pembersihan dan pemeriksaan jaringan menjaga fungsi pelayanan; sedangkan kelembagaan memastikan keduanya tidak berhenti ketika program selesai.
Pada akhirnya, perjuangan menjaga air bukan pekerjaan satu musim. Ia merupakan proses panjang untuk merawat pohon, memeriksa aliran, mencatat perubahan, menegakkan kesepakatan, dan mewariskan tanggung jawab. Dari Saree, pesan itu terdengar sederhana tetapi mendasar: jangan tinggalkan air mata untuk generasi berikutnya; tinggalkanlah mata air yang tetap hidup.
Kata kunci: Kawasan Ekosistem Seulawah; KSAM; FAMS; ketahanan air; reforestasi; konservasi berbasis masyarakat.
Tentang penulis. Yasser Premana, S.Hut., M.P. adalah dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan Pante Kulu yang menekuni bidang kewirausahaan dan pengelolaan hutan.